Rabu, 05 Juni 2013

CIRI MUTTAQIEN


1.1. Pengertian / Definisi & ciri muttaqien

pengertian dan ciri-ciri orang muttaqin itu sendiri.
Menurut  pakar sufi Al-Ghazali, takwa berasal dari kata wiqayah yang berarti pemelihara atau pelindung. Yakni terpelihara dari kejahatan,karena adanya kemauan yang teguh untuk meninggalkannya. Menurut Alquran takwa memiliki maksud, antara lain dengan arti takutnya hanya kepada Allah semata. Takwa dengan arti ketaatan dan ibadah. Takwa dengan arti bersih hati dari dosa. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan ciri-ciri orang muttaqin adalah terpeliharanya hati dari berbagai dosa/maksiat yang mungkin terjadi, karena adanya kecenderungan yang kuat untuk meninggalkannya.
Imam Ja’far Shodiq mengatakan ketakwaan mengandung tiga segi:
1. ketakwaan dengan bergantung kepada Allah yang berarti meninggalkan segala pertentangan serta melampaui segala keraguan. Inilah ketakwaan yang dijalankan oleh golongantertinggi.
2. Ketakwaan kepada Allah yang berarti meninggalkan segala masalah yang meragukan dan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Inilah ketakwaan dari golongan terpilih. Ketakwaan terhadap api neraka dan hukuman yang mengakibatkan ditinggalkannya hal-hal yang dilarang. Ini adalah ketakwaan tingkat masyarakat awam.
3. Ketakwaan itu bagaikan air mengalir di sungai. Ketiga tingkatan ketakwaan itu seperti pepohonan, dengan aneka warna dan bentuk yang ditanam di tepinya. Masing-masing pohon menyerap air dari sungai sesuai dengan kapasitas, kelembutan dan ketebalannya. Banyak para sufi berjalan di atas rel ini, Rabiah Adawiyah misalnya, ketakwaannya bukan karena takut akan siksa-Nya, beliau berkata, ’’Bakarlah aku di dalam api neraka kalau memang begitu.’’ Dan bukan pula untuk mengharap surga-Nya.Tapi Rabiah benar-benar takwa karena panggilan takwa itu sendiri. Demikian pula pada mereka yang menenggelamkan diri pada dunia kesufian.
1.2  Dalil Al-qur’an/ Al-hadits yang terkait
Beberapa orang yang bertakwa berdasarkan surah al-Baqarah ayat 2 sampai 5. Tidak ada tujuan lain dari tulisan ini selain semoga kita bisa mencapai derajat taqwa dengan memahami dan mengamalkan ciri-cirinya.
Ayat ke-2 surah al-Baqarah menunjukkan peran Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
ذلك الكتب لا ريب فيه ، هدى للمتقين
Al-Kitab yang dimaksud adalah Al-Qur’an (silakan lihat tafsir Ibnu Katsir dan al-Baghawi. Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim diriwayatkan bahwa al-Hasan dan Ibnu ‘Abbas juga menafsirkan al-Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Al-Qur’an).
 Laa rayba fiih artinya tidak ada keraguan sedikitpun padanya bahwa Al-Qur’an ini berasal dari sisi Allah dan Al-Qur’an ini adalah haqq dan benar (lihat tafsir al-Baghawi). Pengertian ini sudah disepakati oleh para mufassir, baik dari kalangan shahabat maupun tabi’in (lihat tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Ibnu Abi Hatim). Dari sini bisa kita pahami bahwa Al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah, Tuhan pencipta alam semesta termasuk manusia. Apakah akal kita bisa mencapai kesimpulan bahwa Al-Qur’an benar-benar kalamullah? Jawabannya bisa. Silakan baca penjelasan lengkapnya di kitab Nizhamul Islam karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah.
 (Dari ayat ini kita juga bisa pahami bahwa isi Al-Qur’an adalah haq, semuanya merupakan kebenaran, walaupun maknanya ada yang qath’i (jelas dan hanya menunjuk satu makna) ada yang zhanni (perlu usaha yang keras untuk memahami maknanya, disinilah peran mufassir). Ayat ini sangat cukup sebagai hujjah untuk menunjukkan hukum Al-Qur’an adalah hukum yang terbaik bagi manusia. Mengapa? Pertama, karena Al-Qur’an merupakan kalamullah, firman Allah, Tuhan pencipta manusia yang tahu tetek bengek tentang manusia melebihi pengetahuan manusia sendiri. Kedua, karena semua isi Al-Qur’an adalah kebenaran, artinya semua yang bertentangan dengan Al-Qur’an adalah salah, dan hukum buatan manusia sekarang secara mendasar bertentangan dengan Al-Qur’an.
 Hudan(l) lil muttaqin, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Petunjuk apa? Petunjuk dari kesesatan, demikian menurut asy-Sya’bi (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Artinya, Al-Qur’an adalah kompas agar setiap orang tidak terjatuh pada kesesatan. Ada juga yang mengartikan hudan sebagai nur (cahaya) tibyan (penjelasan). Ibnu Katsir menyatakan semua tafsir ini benar. Dalam ayat ini Allah mengkhususkan hudan hanya bagi orang-orang yang bertakwa sebagai penghormatan dan pemuliaan bagi mereka serta penjelasan atas keutamaan mereka, demikian menurut Abu Rauq dalam tafsir al-Qurthubi. Menurut Hasan al-Bashri, definisi muttaqin adalah orang-orang yang menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah atas mereka dan menjalankan semua yang diwajibkan atas mereka (lihat tafsir Ibnu Katsir).

Tidak ada komentar: